Pages

Kamis, 09 Mei 2013

Makna Lingkungan Hidup

Lingkungan Hidup

Lingkungan, di Indonesia sering juga disebut "lingkungan hidup". Dalam Undang-Undang no. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, definisi Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia, dan perilakunya, yang memengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. A.F.A Pengertian lingkungan hidup bisa dikatakan sebagai segala sesuatu yang ada di sekitar manusia atau makhluk hidup yang memiliki hubungan timbal balik dan kompleks serta saling mempengaruhi antara satu komponen dengan komponen lainnya.

Pada suatu lingkungan terdapat dua komponen penting pembentukannya sehingga menciptakan suatu ekosistem yakni komponen biotik dan komponen abiotik. Komponen biotik pada lingkungan hidup mencakup seluruh makluk hidup di dalamnya, yakni hewan, manusia, tumbuhan, jamur dan benda hidup lainnya. sedangkan komponen abiotik adalah benda-benda mati yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup makhluk hidup di sebuah lingkungan yakni mencakup tanah, air, api, batu, udara, dan lain sebaiganya.

Pengertian lingkungan hidup yang lebih mendalam menurut No. 23 Tahun 2007 adalah kesatuan ruang dengan semua benda atau kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya ada manusia dan segala tingkah lakunya demi melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia maupun mahkluk hidup lainnya yang ada di sekitarnya.

Untuk memahami lebih mendasar makna lingkungan hidup sebagai suatu sistem. Terlebih dahulu dimulai dengan pengertian kata demi kata berdasarkan arti “Lingkungan Hidup” dalam UU No.23 Tahun 1997. 

1. Ruang

Ruang yang dihuni manusia adalah alam atau daratan yang luasnya ± 29% dari seluruh luas permukaan bumi. Selebihnya 71% adalah lautan. Penduduk yang menghuninya berjumlah lebih dari 6,5 miliar jiwa, di antaranya Bangsa Indonesia, lebih dari 217 juta merupakan 3% dari penduduk di Bumi yang menghuni hanya 1,3% dari luas daratan. Jadi ruang yang dihuni Bangsa Indonesia termasuk yang cukup padat penduduknya.

2. Benda

Benda adalah pengada ragawi nirhidup (abiota) yang sering salah disebut sebagai benda mati, karena sesuatu yang mati tentulah sebelumnya pernah hidup, sedangkan benda nirhidup benda yang memang tidak pernah hidup. Benda dapat dipilah-pilah sebagai benda padat, cair dan gas.

3. Keadaan atau tatanan alam

Keadaan yang dimaksud adalah tatanan lingkungan hidup yakni apa yang dialami makhluk hidup. Keadaan atau tatanan alam ini terjadi karena dinamika alam yang terdiri atas alogeni, alogenik atau alogenesis oleh peristiwa alam yang menimpa makhluk hidup. Alele adalah “asing” karena peristiwa yang menimpa makhluk hidup berasal dari pihak lain. Keadaan yang timbul karena ulah makhluk hidup disebut autogenik atau autogenesis. 


>> Alogenik

Alogenik adalah keadaan alam yang terjadi karena dinamika dalam alam. Kejadian atau tatanan alam ini berupa gempa, letusan gunung api, gelombang tsunami, dan sebagainya. Letusan gunung api Toba, terjadi 74.000 tahun yang lalu dan melemparkan 3000 km³ material ke atmosfer. Di Indonesia, juga terjadi letusan gunung api yang cukup hebat, antara lain gunjung Tambora (1815), dan gunung Krakatau (1883). Akibat letusan gunung Krakatau yang sangat dahsyat, dampak letusan dirasakan hingga ratusan bahkan ribuan kilometer jauhnya. Akibat letusan pula gunung Krakatau hancur, namun muncul anak gunung Krakatau yang saat hingga saat ini masih menunjukkan tanda-tanda keaktifannya.

Contoh lain adalah tsunami besar yang terjadi di Aceh dan Sumatera Utara pada tanggal 26 Desember 2005. Akibat tsunami, Aceh dan Sumatera Utara porak-poranda dan memakan ratusan ribu korban jiwa. Setelah tsunami banyak yang berubah di tempat yang dilalui tsunami termasuk keadaan alamnya. Gempa yang terjadi sebelum tsunami juga membentuk keadaan alam diantaranya tanah menjadi retak.

Menurut para ilmuwan, Indonesia terletak di daerah “ring of fire” atau lingkaran api. Dari sebanyak 129 gunung api di Indonesia atau 13 persen dari seluruh gunung api di dunia, terbentang dari pulau Sumatera menyusuri pulau Jawa kemudian menyeberang ke Bali, Nusa Tenggara hingga bagian timur Maluku dan berbelok ke utara pulau Sulawesi. Atau melingkari Kepulauan Indonesia sehingga dikenal dengan sebutan lingkaran api ( The Ring of Fire ) Indonesia, atau jalur tektonik Indonesia, tegas Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi, Dr Surono.

Ring Of Fire
Banyaknya gunung api di Indonesia, karena negara kepulauan ini tercabik - cabik oleh keberadaan pusat hiruk - pikuk tiga lempeng tektonik ( tectonic plate ), yang saling bertabrakan, katanya. Masing - masing lempeng Eurasia, lempeng Indo - Australia dan lempeng Pasifik, tumbukan ketiga lempeng tersebut pada akhirnya membentuk rangkaian gunung api di Indonesia. Gunung api tersebut yang menyebabkan Indonesia rawan bencana gunung api meletus yang membentuk alogenik di daerah sekitar letusan. Seperti letusan gunung api Merapi di Jawa Tengah yang terjadi tahun 2009 yang menghanguskan daerah lereng dan kaki gunungnya. Sehingga keadaan alamnya menjadi berubah karena dampak letusan tersebut. 

>> Autogenik

Makhluk hidup juga mungkin berbuat sesuatu sehingga dapat mengubah keadaan di bumi. Kejadian ini disebut autogenic, autogenic atau autogenesis. Manusia adalah makhluk hidup yang dapat melakukannya, contohnya adalah seperti pembangunan dam yang membendung aliran sungai menjadi danau buatan seperti danau Jatiluhur, danau Karangkates, dll. Contoh lainnya adalah terjadi perubahan dua laut yang dihubungkan oleh manusia dengan terusan, seperti terusan Suez, terusan Panama, dsb.

Binatang juga dapat melakukan sesuatu yang merubah keadaan alam seperti burung yang membuat sarang, burung pelatuk yang melubangi pohon, dsb. Ada pula yang mampu menimbulkan perubahan alam sewaktu menggali lubang perlindungan seperti ular atau tikus, rayap yang memakan kayu atau batang pohon hingga hancur, dsb.

Jelas bahwa sikap dan perilaku makhluk hidup, khususnya manusia (antropogenik) yang berakal pikiran perlu disesuaikan dengan tatanan alam yang ada. Misalnya, letusan gunung api yang dapat diperhitungkan dengan mengukur getaran seismograf yang dapat dipantau langsung atau melalui satelit dan diteruskan kepada instansi yang bersangkutan seperti Badan Metereolodi dan Geofisika (BMG) untuk disebarluaskan sebagai peringatan dini bagi penyelamatan diri masyarakat.

Di samping itu juga perlu dipahami bahwa ada di antara tatanan alogenik yang dapat dipengaruhi juga oleh perilaku autogenic, khususnya oleh manusia. Contohnya adalah tanah longsor, banjir, dsb yang seringkali kita kenal dengan bencana alam. Padahal banyak kasus dimana hal itu terjadi karena dipicu oleh kegiatan manusia seperti penebangan hutan, membuang sampah ke sungai, dsb.

4. Daya, Peluang dan Tantangan


Daya umumnya diartikan sebagai kekuatan, kemampuan atau tantangan. Pengertian itu benar, tapi secara lebih luas maknanya adalah peluang atau kesempatan. Artinya, bagaimana kemampuan yang ada pada manusia digunakan dalam menghadapai tantangan serta peluang untuk melakukan sesuatu yang bermakna dalam kehidupan. Peluang ini juga merupakan kewajiban dan tugas manusia dalam masyarakat sesuai dengan manfaat dan kebutuhan.
Faktor yang menentukan tersedianya peluang sangat beragam, pertama adalah kemampuan kita untuk mengerti dan memahami sesuatu, apa yang ada, dan apa yang sebenarnya kita butuhkan. Factor berikutnya adalah memahami sumber daya alam yang ada, termasuk potensi dan keadaannya. Misalnya, upaya menjauhi wilayah gempa, menghindari wilayah meletusnya gunung api, dsb. Untuk itulah manusia perlu menjalani proses pendidikan dan penelitian tanpa henti untuk meningkatkan daya dalam mempergunakan peluang untuk menghadapi tantangan yang ada di sekitar kita setiap harinya.
Segala sesuatu yang diciptakan Tuhan adalah pengada yang pasti dengan fungsi atau maknanya masing-masing dalam kehidupan. Paham tersebut disebut entitisme. Dalam kenyataan yang ada sekarang, hal ini masih terlalu sulit untuk kita pahami. Misalnya, keberadaan nyamuk. Walaupun nyamuk dapat menyebabkan tersebarnya penyakit seperti malaria atau demam berdarah, sebenarnya dibalik itu kita perlu menerima adanya tantangan sebagai pesan kebersihan lingkungan. Di samping itu, perlu dilengkapi dengan paham bahwa nyamuk dapat menjadi makanan cicak, tokek, dan laba-laba; juga makanan ikan yang kita pelihara sehingga keberadaan nyamuk di sekitar kita bisa kita hadapi dengan sebenar-benarnya untuk menghindari kemungkinan yang tidak diinginkan.
Oleh karena itu, perlu dorongan untuk meneliti dan menemukan cara guna menghindarinya dengan menggunakan lotion anti nyamuk, obat nyamuk bakar atau semprot, dsb. Disamping itu, dipikirkan pula apakah dengan musnahnya nyamuk juga akan mengakibatkan menurunnya keanekaragaman hayati seperti cicak, laba-laba, tokek, dll. Perlu dipertimbangkan apakah tindakan yang kita lakukan mungkin mengakibatkan punahnya suatu jenis makhluk hidup. Nabi Isa a.s., beramanah agar kita tidak membunuh binatang kecuali untuk  dimakan atau untuk pengobatan misalnya. Jadi kalau nyamuk tidak untuk dimakan, manusia bisa merasakan manfaatnya melalui jentik nyamuk yang dimakan ikan kemudian manusia memakan ikan tersebut.
tanaman ilalang
Tanaman ilalang dapat bermanfaat untuk orang banyak
 Contoh lainnya yaitu dapat dilihat pada tanaman ilalang, tanaman ilalang yang menganggu lingkungan tetapi bagi mereka yang berfikir kreatif bisa dimanfaatkan untuk membuat kerajianan tangan yang bermanfaat untuk manusia. Tantangan yang semula hanya pemberantasan tanaman ilalang beralih ke cara pengendalian, akhirnya diketahui bahwa sebenarnya ada peluang menguntungkan dari kehadiran ilalang tersebut.


5. Pengada Insani (Biota)

Makhluk hidup adalah pengada insani (biota) yang terutama menunjukan perwujudan atau gejala adanya kehidupan. Sebenarnya kehidupan itu juga terwujud dengan adanya hubungan timbal balik atau ketergantungannya dengan pengada ragawi, baik benda, materi, air, udara, panas, sinar, cahaya, dan seterusnya.

6. Perilaku Makhluk Hidup

Perilaku makhluk hidup berbeda-beda menurut kelompok dan keberadaannya dalam kelompoknya. Makhluk hidup selain manusia menunjukkan perilaku yang mengikuti tatanan alam yang sewajarnya. 

* Perilaku Makhluk Hidup Lain 

Semua makhluk hidup yang ada mempunyai makna yang berbeda-beda, beranekaragam, isi mengisi dan saling melengkapi sebagai suatu keutuhan sistem. Pada umumnya semuanya menghasilkan suatu keindahan (amenity) dan akhirnya secara sosial kita sepakati akan adanya nilai (bukan harganya) keindahan itu.

* Perilaku Manusia

Pada mulanya perilaku manusia yang hidup serasi dengan Alam, disekitar atau dalam hutan serta di perdesaan wajar-wajar saja. Tetapi setelah kehidupan mulai mengalami berbagai masalah dan kesulitan, muncullah perilaku yang kurang wajar. Hal ini disebabkan karena tuntutan dasar untuk bertahan hidup walaupun harus melupakan kearifan kita sebagai manusia terhadap makhluk Tuhan yang lain.
eksploitasi harimau dan monyet. untuk kepentingan pribadi manusia

7. Kelangsungan Peri Kehidupan

Kelangsungan peri kehidupan di Bumi ini tidak mudah untuk diperkirakan. Berbagai keanekaragaman faktor, keadaan, daya, dan waktu sangat menentukan apa wujud dari kelangsungan peri kehidupan. Keadaan atau tatanan Alam yang sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan, masih terlalu terbatas, untuk dapat kita ketahui seperti gunung, letusan gunung berapi, tsunami dan lain sebagainya dinamika tatanan itu harus dapat di manfaatkan untuk menyelamatkan kelangsungan peri kehidupan kita.Lingkungan hidup bukan sekadar alam sekitar, karena kita berada di dalamnya. Kalau hidup kita bermakna, di mana kita bersikap dan berprilaku sebaik mungkin, tidak mungkin terjadi atau pun kerusakan lingkungan; karena rusaknya lingkungan berarti juga rusaknya makna hidup kita.

*Daur Kehidupan

Dengan memahami daur kehidupan yang terjadi dan upaya penyesuaian diri dengan fenomena yang terjadi, berbagai resiko kehidupan dapat kita tanggapi secara lebih arif dan bijaksana. Misalnya saja hubungan antara makhluk hidup yang memisahkan kelompok autotrof dan heterotrof .

*Daur Hidup Lain

Fenomena unik dimana hubungan antara tumbuhan dan hewan dapat berlangsung saling menguntungkan, tetapi juga dapat mematikan, yang maknanya adalah kearah pengaturan keseimbangan populasi antarjenis makhluk hidup.
Di belantara topik Sumatera, Malaysia dan sekitarnya terdapat Nepenthes gymnosphora (A) yang mendapatkan sebagian bahan metabolisme dari serangga yang jatuh ke dalam bunga untuk kemudian menagkap dan mencernakannya, sedangkan raflesia arnoldi dengan baunya yang menarik datangnya serangga yang merupakan polinator sebagai penyerbuk bunga Raflesia (B). Hal yang sama juga terjadi pada penyerbukan bunga bangkai (amorphophallus titanum) (C)

8. Kesejahteraan Makhluk Hidup

*Kesejahteraan Manusia

Kesejahteraan manusia tidak hanya kebutuhan dasar fisiologi seperti makan, minum, bernapas dan sebagainya, disamping itu juga terdapat kebutuhan fisik untuk mendapatkan ketentraman hidup diri dari gangguan keamananan. Manusia juga mempunyai kebutuhan dasar psikologi, yakni sikap lahir pribadi jati diri atau egoisme (self-personal esteem) yang merupakan kepercayaan diri. Manusia juga memerlukan hubungan kekerabatan dan kemitraan antar sesama manusia, yang menuntut sikap saling menghormati (interpersonal esteem) dalam keluarga, dalam pergaulan dan dalam kehidupan bermasyarakat. Sedangkan kesejahteraan batin termasuk yang bersifat keagamaan, keyakinan, moral, dan etika.

*Kesejahteraan Makhluk Hidup Lain

Demikian pula makna Kebun Raya Bogor , Cibodas (Puncak), Puwodadi (Malang), Kebun Raya  Sibolangit (Padang), Kebun Raya Eka Karya (Bali) merupakan upaya manusia untuk menempatkan flora di habitat buatan (ex-situ) bagi keperluan wisata, keindahan, pendidikan dan penelitian.


Kesimpulan






Lingkungan hidup adalah suatu sistem, mulai dari ruang, dimana di dalam ruang itu terdapat pengada (entity) baik pengada ragawi nirhidup (abiota) dan pengada insani (biota). Kemudian dalam lingkungan hidup terdapat tatanan alam atau keadaan yang dialami makhluk hidup  dikarenakan peristiwa alam, terdiri atas 2 jenis yaitu alogenik dan autogenik.
Dalam lingkungan hidup sebenarnya terdapat berbagai tatanan alam yang mengandung makna dan dapt dimanfaatkan oleh manusia. Manusia memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan serta peluang untuk melakukan sesuatu yang bermakna dalam kehidupan. Peluang ini juga merupakan kewajiban dan tugas manusia dalam masyarakat sesuai dengan keselamatan atau manfaat yang diinginkan.
Pada mulanya perilaku manusia yang hidup dengan Alam, melakukan hal yang wajar-wajar saja. Namun, setelah kehidupan muali mengalammi berbagai masalah dan kesulitan, muncullah perilaku kurang wajar. Hal ini disebabkan karena tuntutan dasar untuk tetapi bertahan hidup walaupun harus melupakan kearifan kita sebagai manusia terhadap makhluk Tuhan yang lain. Sebagai manusia yang hidup dalam suatu lingkungan yang terdiri dari manusia dan makhluk hidup lain kita tidak hanya memikirkan kesejahteraan manusia saja melainkan kesejahteraan makhluk hidup lain.
Jelas kiranya jika kita mau memberikan isi atau makna tentang lingkungan hidup mulai ruang, perilaku manusia, dan kesejahteraan makhluk hidup lain dengan semestinya akan kita nikmati hidup yang lebih tenteram, lebih bermakna dan lebih menyenangkan.


0 komentar:

Poskan Komentar